Postingan

Elegi untuk Mereka yang Dibunuh dan Difitnah

Perkenalkan, saya Rwan Disastra. Nama ini mungkin tidak penting bagi banyak orang, tapi keresahan yang saya bawa nyata dan hidup. Saya menulis bukan karena ingin dikenal, melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak bisa lagi saya simpan sendiri. Saya hidup di tengah masyarakat yang setiap hari disuguhi kabar kekerasan lalu diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Saya kerap disamakan dengan sosok Juang Astrajingga—bukan karena saya ingin menjadi tokoh, tetapi karena kegelisahan kami lahir dari tempat yang sama. Saya sulit diam, mudah marah, dan tidak pernah benar-benar tenang melihat ketidakadilan diperlakukan sebagai rutinitas. Saya tidak pandai bersikap netral ketika nyawa manusia diperlakukan seperti kesalahan prosedur. Tulisan ini bukan upaya menjadi pahlawan. Ini luapan keresahan yang terlalu lama ditahan. Terlalu sering saya membaca klarifikasi yang dingin, terlalu sering melihat korban difitnah, dan terlalu sering menyaksikan aparat dilindungi oleh sistem yang se...

Aku Dibunuh Polisi (Catatan dari Anak Madrasah Yang Tak Sempat Dewasa)

Aku adalah seorang pelajar madrasah. Usiaku empat belas tahun. Dan angka itu tidak akan pernah bergerak ke mana pun. Aku mati di usia itu. Bukan oleh waktu, bukan oleh penyakit, melainkan dibunuh oleh mereka yang seharusnya menjaga. Kamis pagi menjadi batas. Bukan penanda hari, tapi garis akhir. Di hari itu, hidupku dihentikan oleh polisi—oleh kekuasaan yang datang tanpa telinga, oleh tangan yang memilih memukul alih-alih mendengar. Tidak ada peringatan yang cukup manusiawi, tidak ada ruang untuk menjelaskan bahwa aku masih anak-anak. Yang ada hanya keputusan sepihak, cepat, dingin, dan tak bisa ditarik kembali. Sejak saat itu, aku bukan lagi masa depan. Aku berubah menjadi kenangan. Aku tidak sempat tumbuh dewasa. Tidak sempat belajar tentang dunia yang katanya adil. Tidak sempat membuat kesalahan yang seharusnya wajar bagi anak seusia empat belas tahun. Aku mati sebelum sempat gagal, sebelum sempat memperbaiki, sebelum sempat membuktikan apa pun. Hidupku selesai bahkan sebelum benar-...

JURNAL JUANG - Fragmen Soundswave yang Meminta Kesimpulan

     Pagi itu datang tanpa suara. Seperti biasa, matahari menetes perlahan melalui sela-sela tirai jendela, memaksa kesadaran kembali ke tubuh yang masih enggan bangun. Tatkala mataku terbuka, ada perasaan yang menggantung samar di dada—bukan kesedihan yang jelas bentuknya, tetapi lebih seperti kabut tipis yang menyelimuti pikiran. Aku, bangkit dari tempat tidur dan menjalankan rutinitas sebagaimana mestinya, kendati suasana hati terasa berjalan setengah langkah di belakang diriku sendiri. Air membasuh wajah, kopi hangat menemaniku menatap waktu yang bergerak perlahan. Hari itu tidak terasa istimewa, setidaknya hingga siang mulai mendekat dan ingatanku menuntunku pada satu hal yang membuat jantung berdetak sedikit lebih hidup: Soundswave. Sebuah acara musik yang digelar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Musik selalu menjadi ruang di mana aku bisa bersembunyi sekaligus menemukan diri sendiri, tempat di mana kebisingan justru terasa seperti ketenangan yang paling ...

JURNAL JUANG - Kota, kopi pinggir jalan dan yang hilang di tengah jalan

Hari itu dimulai seperti hari yang tidak menuntut apa pun dariku. Jakarta tetap berdiri seperti biasanya—ramai, panas, dan sedikit tidak peduli terhadap cerita kecil manusia di dalamnya. Aku berangkat hanya dengan satu tujuan sederhana: bertemu Jeira. Kami bertemu ketika sore masih menggantung di antara terang dan gelap. Jeira datang dengan langkah yang terlihat tenang, seperti seseorang yang tidak pernah merasa perlu mengejar waktu. Senyumnya sederhana, tapi cukup membuat suasana terasa lebih ringan. Kami mulai berjalan tanpa rencana yang benar-benar jelas. Percakapan kami mengalir pelan, membahas hal-hal kecil—lagu yang sedang sering didengar, cerita lama yang kadang masih tertinggal di kepala, dan bagaimana hidup sering terasa berjalan lebih cepat dari yang kita inginkan. Belum lama berjalan, aku melihat gerobak kopi yang sedang ramai dikerumuni orang. Kopi gerobakan yang sedang viral—banyak orang bilang rasanya mirip kopi Jago, tapi jelas bukan. Aku mengajaknya berhenti sebentar. K...

Berada di Sudut Surga yang Paling Gelap

  Aku berada di sudut surga yang paling gelap, bukan karena aku tersesat, melainkan karena langkahku berhenti di tempat cahaya memilih untuk tidak bicara, tempat keheningan tumbuh seperti lumut di dinding-dinding doa, dan waktu berjalan pelan seolah sedang mempertimbangkan apakah aku layak untuk dilanjutkan atau ditinggalkan di halaman ini selamanya. Di sudut ini, surga tidak berkilau, ia duduk diam seperti langit yang kelelahan menahan birunya sendiri, sementara aku memandang kebahagiaan dari kejauhan layaknya perahu-perahu yang berlayar tanpa pernah berniat merapat, meninggalkan riak kecil di dadaku yang tak pernah benar-benar tenang, hanya belajar menjadi terbiasa. Aku menunggu di bangku yang terbuat dari kenangan, bangku rapuh yang setiap patahannya menyebut namaku dengan suara lirih, sambil mendengarkan hatiku bercerita tentang harapan yang pernah tinggi lalu menunduk karena terlalu sering kecewa, seperti bunga yang tumbuh di tempat salah namun tetap memaksa mekar demi membukt...

Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?

Ketika kabar itu datang—bahwa lusa mungkin menjadi hari kematianku—aku tidak terkejut. Sesuatu dalam diriku sudah lama hidup dengan kemungkinan bahwa hidup ini hanya sementara, seperti kursi yang ditinggal hangat tubuh atau bayangan yang hanya ada selama cahaya mau menemaninya. Sore hari itu, aku duduk diam menatap langit yang berubah warna perlahan. Merahnya menyerupai luka tua yang tak lagi marah, hanya mengingatkan diri bahwa ia pernah sakit. Dalam senyap yang merayap, aku bertanya kepada diriku sendiri:  Apa sebenarnya yang ingin kutinggalkan pada dunia yang bahkan tidak pernah kumiliki sepenuhnya? Aku kemudian berjalan keluar rumah. Angin menampar wajahku dengan cara yang aneh—liar, namun terasa akrab, seperti alarm dari sesuatu yang sudah lama kutunda untuk kusadari. Aspal retak di bawah kakiku tampak seolah mengikuti keretakan yang sejak lama berputar dalam kepalaku. Saat langkahku bergema, aku bertanya dalam hati: “Jika lusa aku mati, untuk apa selama ini aku menjaga luka-l...

Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?

Aku berjalan tanpa bayangan, karena bayanganku sudah lama memilih pergi. Katanya, aku terlalu gelap bahkan untuk sekadar ia tempelkan diri. Jadi aku melangkah sendirian di sebuah lorong yang tidak punya waktu, tidak punya arah, hanya desis—desis dari sesuatu yang haus di balik dindingnya. Orang berkata ada surga di ujung jalan ini. Tapi aku tidak pernah melihat cahaya. Yang kulihat hanyalah api kecil yang menari seperti ejekan, seolah berkata: “Kau tidak sedang menuju surga. Kau hanya sedang menunda neraka yang sebenarnya.” Aku mencoba percaya bahwa ampunan bisa lahir dari kekacauan. Bahwa kebaikan bisa diraih melalui luka yang kuciptakan sendiri. Bodoh. Tuhan mungkin memaafkan, tapi jejak dosa tidak pernah menguap—ia membatu, menjadi fondasi dari semua langkahku. Aku menyakiti orang yang kucintai dan menyebutnya pengorbanan. Aku merusak diriku sendiri dan menyebutnya perjalanan spiritual. Aku menipu dunia dan menamainya pencarian. Aku meludahi langit lalu memohon hujan darinya. Ada ma...