Berada di Sudut Surga yang Paling Gelap
Di sudut ini, surga tidak berkilau, ia duduk diam seperti langit yang kelelahan menahan birunya sendiri, sementara aku memandang kebahagiaan dari kejauhan layaknya perahu-perahu yang berlayar tanpa pernah berniat merapat, meninggalkan riak kecil di dadaku yang tak pernah benar-benar tenang, hanya belajar menjadi terbiasa.
Aku menunggu di bangku yang terbuat dari kenangan, bangku rapuh yang setiap patahannya menyebut namaku dengan suara lirih, sambil mendengarkan hatiku bercerita tentang harapan yang pernah tinggi lalu menunduk karena terlalu sering kecewa, seperti bunga yang tumbuh di tempat salah namun tetap memaksa mekar demi membuktikan dirinya hidup.
Surga ini tetap indah, hanya saja keindahannya tidak ramah, ia seperti senyum yang terlalu jauh untuk dijangkau, seperti pelukan yang selalu datang terlambat, dan di sudut tergelapnya aku dipaksa bertemu diriku sendiri tanpa cahaya, tanpa penyangga, tanpa alasan untuk melarikan luka ke balik kata-kata manis.
Di sinilah aku mengerti bahwa gelap bukan kutukan, melainkan bahasa lain dari terang, sebuah jeda panjang yang mengajarkan kesabaran, seperti malam yang memeluk pagi tanpa pernah menuntut untuk diingat, dan aku, manusia dengan segala retaknya, memilih duduk dan mendengarkan, belajar memahami bahwa tidak semua yang sunyi berarti kehilangan.
Maka aku tetap berada di sudut surga yang paling gelap, bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai proses, sebagai ruang kecil tempat aku membiarkan diriku runtuh perlahan, agar suatu hari nanti, ketika cahaya akhirnya datang, aku tidak lagi silau, melainkan siap.
Komentar
Posting Komentar