Berada di Sudut Surga yang Paling Gelap
Aku berada di sudut surga yang paling gelap, bukan karena aku tersesat, melainkan karena langkahku berhenti di tempat cahaya memilih untuk tidak bicara, tempat keheningan tumbuh seperti lumut di dinding-dinding doa, dan waktu berjalan pelan seolah sedang mempertimbangkan apakah aku layak untuk dilanjutkan atau ditinggalkan di halaman ini selamanya. Di sudut ini, surga tidak berkilau, ia duduk diam seperti langit yang kelelahan menahan birunya sendiri, sementara aku memandang kebahagiaan dari kejauhan layaknya perahu-perahu yang berlayar tanpa pernah berniat merapat, meninggalkan riak kecil di dadaku yang tak pernah benar-benar tenang, hanya belajar menjadi terbiasa. Aku menunggu di bangku yang terbuat dari kenangan, bangku rapuh yang setiap patahannya menyebut namaku dengan suara lirih, sambil mendengarkan hatiku bercerita tentang harapan yang pernah tinggi lalu menunduk karena terlalu sering kecewa, seperti bunga yang tumbuh di tempat salah namun tetap memaksa mekar demi membukt...