Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?

Ketika kabar itu datang—bahwa lusa mungkin menjadi hari kematianku—aku tidak terkejut. Sesuatu dalam diriku sudah lama hidup dengan kemungkinan bahwa hidup ini hanya sementara, seperti kursi yang ditinggal hangat tubuh atau bayangan yang hanya ada selama cahaya mau menemaninya. Sore hari itu, aku duduk diam menatap langit yang berubah warna perlahan. Merahnya menyerupai luka tua yang tak lagi marah, hanya mengingatkan diri bahwa ia pernah sakit. Dalam senyap yang merayap, aku bertanya kepada diriku sendiri:  Apa sebenarnya yang ingin kutinggalkan pada dunia yang bahkan tidak pernah kumiliki sepenuhnya? Aku kemudian berjalan keluar rumah. Angin menampar wajahku dengan cara yang aneh—liar, namun terasa akrab, seperti alarm dari sesuatu yang sudah lama kutunda untuk kusadari. Aspal retak di bawah kakiku tampak seolah mengikuti keretakan yang sejak lama berputar dalam kepalaku. Saat langkahku bergema, aku bertanya dalam hati: “Jika lusa aku mati, untuk apa selama ini aku menjaga luka-l...

Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?

Aku berjalan tanpa bayangan, karena bayanganku sudah lama memilih pergi. Katanya, aku terlalu gelap bahkan untuk sekadar ia tempelkan diri. Jadi aku melangkah sendirian di sebuah lorong yang tidak punya waktu, tidak punya arah, hanya desis—desis dari sesuatu yang haus di balik dindingnya. Orang berkata ada surga di ujung jalan ini. Tapi aku tidak pernah melihat cahaya. Yang kulihat hanyalah api kecil yang menari seperti ejekan, seolah berkata: “Kau tidak sedang menuju surga. Kau hanya sedang menunda neraka yang sebenarnya.” Aku mencoba percaya bahwa ampunan bisa lahir dari kekacauan. Bahwa kebaikan bisa diraih melalui luka yang kuciptakan sendiri. Bodoh. Tuhan mungkin memaafkan, tapi jejak dosa tidak pernah menguap—ia membatu, menjadi fondasi dari semua langkahku. Aku menyakiti orang yang kucintai dan menyebutnya pengorbanan. Aku merusak diriku sendiri dan menyebutnya perjalanan spiritual. Aku menipu dunia dan menamainya pencarian. Aku meludahi langit lalu memohon hujan darinya. Ada ma...