Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?
Ketika kabar itu datang—bahwa lusa mungkin menjadi hari kematianku—aku tidak terkejut. Sesuatu dalam diriku sudah lama hidup dengan kemungkinan bahwa hidup ini hanya sementara, seperti kursi yang ditinggal hangat tubuh atau bayangan yang hanya ada selama cahaya mau menemaninya. Sore hari itu, aku duduk diam menatap langit yang berubah warna perlahan. Merahnya menyerupai luka tua yang tak lagi marah, hanya mengingatkan diri bahwa ia pernah sakit. Dalam senyap yang merayap, aku bertanya kepada diriku sendiri: Apa sebenarnya yang ingin kutinggalkan pada dunia yang bahkan tidak pernah kumiliki sepenuhnya? Aku kemudian berjalan keluar rumah. Angin menampar wajahku dengan cara yang aneh—liar, namun terasa akrab, seperti alarm dari sesuatu yang sudah lama kutunda untuk kusadari. Aspal retak di bawah kakiku tampak seolah mengikuti keretakan yang sejak lama berputar dalam kepalaku. Saat langkahku bergema, aku bertanya dalam hati: “Jika lusa aku mati, untuk apa selama ini aku menjaga luka-l...