Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Elegi untuk Mereka yang Dibunuh dan Difitnah

Perkenalkan, saya Rwan Disastra. Nama ini mungkin tidak penting bagi banyak orang, tapi keresahan yang saya bawa nyata dan hidup. Saya menulis bukan karena ingin dikenal, melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak bisa lagi saya simpan sendiri. Saya hidup di tengah masyarakat yang setiap hari disuguhi kabar kekerasan lalu diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Saya kerap disamakan dengan sosok Juang Astrajingga—bukan karena saya ingin menjadi tokoh, tetapi karena kegelisahan kami lahir dari tempat yang sama. Saya sulit diam, mudah marah, dan tidak pernah benar-benar tenang melihat ketidakadilan diperlakukan sebagai rutinitas. Saya tidak pandai bersikap netral ketika nyawa manusia diperlakukan seperti kesalahan prosedur. Tulisan ini bukan upaya menjadi pahlawan. Ini luapan keresahan yang terlalu lama ditahan. Terlalu sering saya membaca klarifikasi yang dingin, terlalu sering melihat korban difitnah, dan terlalu sering menyaksikan aparat dilindungi oleh sistem yang se...

Aku Dibunuh Polisi (Catatan dari Anak Madrasah Yang Tak Sempat Dewasa)

Aku adalah seorang pelajar madrasah. Usiaku empat belas tahun. Dan angka itu tidak akan pernah bergerak ke mana pun. Aku mati di usia itu. Bukan oleh waktu, bukan oleh penyakit, melainkan dibunuh oleh mereka yang seharusnya menjaga. Kamis pagi menjadi batas. Bukan penanda hari, tapi garis akhir. Di hari itu, hidupku dihentikan oleh polisi—oleh kekuasaan yang datang tanpa telinga, oleh tangan yang memilih memukul alih-alih mendengar. Tidak ada peringatan yang cukup manusiawi, tidak ada ruang untuk menjelaskan bahwa aku masih anak-anak. Yang ada hanya keputusan sepihak, cepat, dingin, dan tak bisa ditarik kembali. Sejak saat itu, aku bukan lagi masa depan. Aku berubah menjadi kenangan. Aku tidak sempat tumbuh dewasa. Tidak sempat belajar tentang dunia yang katanya adil. Tidak sempat membuat kesalahan yang seharusnya wajar bagi anak seusia empat belas tahun. Aku mati sebelum sempat gagal, sebelum sempat memperbaiki, sebelum sempat membuktikan apa pun. Hidupku selesai bahkan sebelum benar-...

JURNAL JUANG - Fragmen Soundswave yang Meminta Kesimpulan

     Pagi itu datang tanpa suara. Seperti biasa, matahari menetes perlahan melalui sela-sela tirai jendela, memaksa kesadaran kembali ke tubuh yang masih enggan bangun. Tatkala mataku terbuka, ada perasaan yang menggantung samar di dada—bukan kesedihan yang jelas bentuknya, tetapi lebih seperti kabut tipis yang menyelimuti pikiran. Aku, bangkit dari tempat tidur dan menjalankan rutinitas sebagaimana mestinya, kendati suasana hati terasa berjalan setengah langkah di belakang diriku sendiri. Air membasuh wajah, kopi hangat menemaniku menatap waktu yang bergerak perlahan. Hari itu tidak terasa istimewa, setidaknya hingga siang mulai mendekat dan ingatanku menuntunku pada satu hal yang membuat jantung berdetak sedikit lebih hidup: Soundswave. Sebuah acara musik yang digelar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Musik selalu menjadi ruang di mana aku bisa bersembunyi sekaligus menemukan diri sendiri, tempat di mana kebisingan justru terasa seperti ketenangan yang paling ...

JURNAL JUANG - Kota, kopi pinggir jalan dan yang hilang di tengah jalan

Hari itu dimulai seperti hari yang tidak menuntut apa pun dariku. Jakarta tetap berdiri seperti biasanya—ramai, panas, dan sedikit tidak peduli terhadap cerita kecil manusia di dalamnya. Aku berangkat hanya dengan satu tujuan sederhana: bertemu Jeira. Kami bertemu ketika sore masih menggantung di antara terang dan gelap. Jeira datang dengan langkah yang terlihat tenang, seperti seseorang yang tidak pernah merasa perlu mengejar waktu. Senyumnya sederhana, tapi cukup membuat suasana terasa lebih ringan. Kami mulai berjalan tanpa rencana yang benar-benar jelas. Percakapan kami mengalir pelan, membahas hal-hal kecil—lagu yang sedang sering didengar, cerita lama yang kadang masih tertinggal di kepala, dan bagaimana hidup sering terasa berjalan lebih cepat dari yang kita inginkan. Belum lama berjalan, aku melihat gerobak kopi yang sedang ramai dikerumuni orang. Kopi gerobakan yang sedang viral—banyak orang bilang rasanya mirip kopi Jago, tapi jelas bukan. Aku mengajaknya berhenti sebentar. K...