Postingan

Aku Dibunuh Polisi (Catatan dari Anak Madrasah Yang Tak Sempat Dewasa)

Aku adalah seorang pelajar madrasah. Usiaku empat belas tahun. Dan angka itu tidak akan pernah bergerak ke mana pun. Aku mati di usia itu. Bukan oleh waktu, bukan oleh penyakit, melainkan dibunuh oleh mereka yang seharusnya menjaga. Kamis pagi menjadi batas. Bukan penanda hari, tapi garis akhir. Di hari itu, hidupku dihentikan oleh polisi—oleh kekuasaan yang datang tanpa telinga, oleh tangan yang memilih memukul alih-alih mendengar. Tidak ada peringatan yang cukup manusiawi, tidak ada ruang untuk menjelaskan bahwa aku masih anak-anak. Yang ada hanya keputusan sepihak, cepat, dingin, dan tak bisa ditarik kembali. Sejak saat itu, aku bukan lagi masa depan. Aku berubah menjadi kenangan. Aku tidak sempat tumbuh dewasa. Tidak sempat belajar tentang dunia yang katanya adil. Tidak sempat membuat kesalahan yang seharusnya wajar bagi anak seusia empat belas tahun. Aku mati sebelum sempat gagal, sebelum sempat memperbaiki, sebelum sempat membuktikan apa pun. Hidupku selesai bahkan sebelum benar-...

Berada di Sudut Surga yang Paling Gelap

  Aku berada di sudut surga yang paling gelap, bukan karena aku tersesat, melainkan karena langkahku berhenti di tempat cahaya memilih untuk tidak bicara, tempat keheningan tumbuh seperti lumut di dinding-dinding doa, dan waktu berjalan pelan seolah sedang mempertimbangkan apakah aku layak untuk dilanjutkan atau ditinggalkan di halaman ini selamanya. Di sudut ini, surga tidak berkilau, ia duduk diam seperti langit yang kelelahan menahan birunya sendiri, sementara aku memandang kebahagiaan dari kejauhan layaknya perahu-perahu yang berlayar tanpa pernah berniat merapat, meninggalkan riak kecil di dadaku yang tak pernah benar-benar tenang, hanya belajar menjadi terbiasa. Aku menunggu di bangku yang terbuat dari kenangan, bangku rapuh yang setiap patahannya menyebut namaku dengan suara lirih, sambil mendengarkan hatiku bercerita tentang harapan yang pernah tinggi lalu menunduk karena terlalu sering kecewa, seperti bunga yang tumbuh di tempat salah namun tetap memaksa mekar demi membukt...

Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?

Ketika kabar itu datang—bahwa lusa mungkin menjadi hari kematianku—aku tidak terkejut. Sesuatu dalam diriku sudah lama hidup dengan kemungkinan bahwa hidup ini hanya sementara, seperti kursi yang ditinggal hangat tubuh atau bayangan yang hanya ada selama cahaya mau menemaninya. Sore hari itu, aku duduk diam menatap langit yang berubah warna perlahan. Merahnya menyerupai luka tua yang tak lagi marah, hanya mengingatkan diri bahwa ia pernah sakit. Dalam senyap yang merayap, aku bertanya kepada diriku sendiri:  Apa sebenarnya yang ingin kutinggalkan pada dunia yang bahkan tidak pernah kumiliki sepenuhnya? Aku kemudian berjalan keluar rumah. Angin menampar wajahku dengan cara yang aneh—liar, namun terasa akrab, seperti alarm dari sesuatu yang sudah lama kutunda untuk kusadari. Aspal retak di bawah kakiku tampak seolah mengikuti keretakan yang sejak lama berputar dalam kepalaku. Saat langkahku bergema, aku bertanya dalam hati: “Jika lusa aku mati, untuk apa selama ini aku menjaga luka-l...

Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?

Aku berjalan tanpa bayangan, karena bayanganku sudah lama memilih pergi. Katanya, aku terlalu gelap bahkan untuk sekadar ia tempelkan diri. Jadi aku melangkah sendirian di sebuah lorong yang tidak punya waktu, tidak punya arah, hanya desis—desis dari sesuatu yang haus di balik dindingnya. Orang berkata ada surga di ujung jalan ini. Tapi aku tidak pernah melihat cahaya. Yang kulihat hanyalah api kecil yang menari seperti ejekan, seolah berkata: “Kau tidak sedang menuju surga. Kau hanya sedang menunda neraka yang sebenarnya.” Aku mencoba percaya bahwa ampunan bisa lahir dari kekacauan. Bahwa kebaikan bisa diraih melalui luka yang kuciptakan sendiri. Bodoh. Tuhan mungkin memaafkan, tapi jejak dosa tidak pernah menguap—ia membatu, menjadi fondasi dari semua langkahku. Aku menyakiti orang yang kucintai dan menyebutnya pengorbanan. Aku merusak diriku sendiri dan menyebutnya perjalanan spiritual. Aku menipu dunia dan menamainya pencarian. Aku meludahi langit lalu memohon hujan darinya. Ada ma...