Aku Dibunuh Polisi (Catatan dari Anak Madrasah Yang Tak Sempat Dewasa)

Aku adalah seorang pelajar madrasah.
Usiaku empat belas tahun.
Dan angka itu tidak akan pernah bergerak ke mana pun.

Aku mati di usia itu.
Bukan oleh waktu, bukan oleh penyakit,
melainkan dibunuh oleh mereka yang seharusnya menjaga.

Kamis pagi menjadi batas.
Bukan penanda hari, tapi garis akhir.
Di hari itu, hidupku dihentikan oleh polisi—oleh kekuasaan yang datang tanpa telinga, oleh tangan yang memilih memukul alih-alih mendengar. Tidak ada peringatan yang cukup manusiawi, tidak ada ruang untuk menjelaskan bahwa aku masih anak-anak. Yang ada hanya keputusan sepihak, cepat, dingin, dan tak bisa ditarik kembali.

Sejak saat itu, aku bukan lagi masa depan.
Aku berubah menjadi kenangan.

Aku tidak sempat tumbuh dewasa. Tidak sempat belajar tentang dunia yang katanya adil. Tidak sempat membuat kesalahan yang seharusnya wajar bagi anak seusia empat belas tahun. Aku mati sebelum sempat gagal, sebelum sempat memperbaiki, sebelum sempat membuktikan apa pun. Hidupku selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai.

Yang ikut mati bersamaku bukan hanya tubuhku,
tetapi juga mimpi.

Mimpi kecil yang kusimpan diam-diam—tentang pulang sekolah tanpa tergesa, tentang tawa sederhana, tentang hidup yang lurus-lurus saja. Dan lebih dari itu, mimpi ayah dan ibuku. Mimpi yang mereka rawat pelan-pelan, dengan kerja keras dan doa panjang. Mimpi yang tidak pernah meminta kemewahan, hanya keselamatan. Semua itu runtuh di Kamis pagi yang sama, ketika negara gagal membedakan antara ancaman dan anak.

Ayahku belajar menjadi lebih tua dalam satu hari.
Ibuku belajar menangis tanpa suara.

Aku sering bertanya, dari tempatku yang kini hanya ingatan:
apakah nyawa anak cukup murah untuk diakhiri tanpa pertanggungjawaban?
apakah seragam memberi hak untuk mencabut masa depan?

Tulisan ini adalah batu nisan yang ditulis dengan kata-kata.
Bukan untuk meratap tanpa arah,
tetapi agar kematianku tidak sekadar menjadi angka.

Aku ingin orang-orang tahu bahwa aku mati dibunuh polisi.
Bukan “meninggal”, bukan “insiden”, bukan “kesalahan prosedur”.
Aku dibunuh, dan kata itu penting, karena kebenaran tidak boleh dipoles agar tampak rapi.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk membenci.
Ini adalah tuntutan agar manusia kembali menjadi manusia.

Jika kau membaca ini, ingatlah bahwa aku pernah hidup.
Aku pernah punya nama, punya orang tua, punya cita-cita yang belum sempat dieja dengan benar. Aku bukan ancaman. Aku bukan musuh. Aku hanya anak madrasah yang ingin pulang dengan selamat.

Biarkan kematianku menjadi cermin.
Bukan untuk menakut-nakuti,
melainkan untuk mengingatkan:
bahwa kekuasaan tanpa empati selalu berakhir pada kehilangan,
dan negara yang membiarkan anak-anaknya mati
sedang menggali lubang bagi masa depannya sendiri.

Aku berhenti di usia empat belas tahun.
Tapi suaraku—jika kau mau mendengarkan—
masih ingin hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?

Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?