Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?
Aku berjalan tanpa bayangan, karena bayanganku sudah lama memilih pergi. Katanya, aku terlalu gelap bahkan untuk sekadar ia tempelkan diri. Jadi aku melangkah sendirian di sebuah lorong yang tidak punya waktu, tidak punya arah, hanya desis—desis dari sesuatu yang haus di balik dindingnya.
Orang berkata ada surga di ujung jalan ini. Tapi aku tidak pernah melihat cahaya. Yang kulihat hanyalah api kecil yang menari seperti ejekan, seolah berkata:
“Kau tidak sedang menuju surga. Kau hanya sedang menunda neraka yang sebenarnya.”
Aku mencoba percaya bahwa ampunan bisa lahir dari kekacauan. Bahwa kebaikan bisa diraih melalui luka yang kuciptakan sendiri.
Bodoh.
Tuhan mungkin memaafkan, tapi jejak dosa tidak pernah menguap—ia membatu, menjadi fondasi dari semua langkahku.
Aku menyakiti orang yang kucintai dan menyebutnya pengorbanan.
Aku merusak diriku sendiri dan menyebutnya perjalanan spiritual.
Aku menipu dunia dan menamainya pencarian.
Aku meludahi langit lalu memohon hujan darinya.
Ada malam-malam ketika aku berlutut pada kegelapan, bukan karena aku menyembahnya—tapi karena aku takut cahaya akan menunjukkan siapa diriku sebenarnya. Cahaya tidak menerima negosiasi. Kegelapan, setidaknya, menerima siapa pun yang sudah putus asa.
Dan aku… sudah terlalu sering menggunakan putus asa sebagai alasan untuk hidup.
Di sepanjang jalan, dosa-dosaku tidak hanya mengikuti—mereka tumbuh menjadi makhluk. Mereka merangkak, memeluk kakiku, memohon untuk tidak ditinggalkan.
Ironis.
Dosa lebih setia daripada manusia.
Aku bertanya lagi, untuk kesekian kalinya yang tak bisa kuhitung:
“Bisakah surga dikejar dengan cara neraka?”
Jawabannya datang bukan sebagai suara, tapi sebagai rasa sakit yang tiba-tiba dingin. Surga tidak pernah dikejar. Neraka pun tidak pernah dicari.
Keduanya hanya menunggu—sabar, tenang, dan kejam. Karena pada akhirnya, manusia sendirilah yang memilih siapa yang pertama mereka sentuh dengan langkahnya.
Dan kini aku mengerti sesuatu yang lebih gelap dari neraka mana pun:
Aku tidak sedang mengejar surga atau neraka.
Aku sedang pelan-pelan menghapus diriku sendiri dari kedua kemungkinan itu.
Kalau cahaya menolakku, biarkan begitu. Jika api menelanku, itu pun adil. Aku hanya ingin tahu apakah mungkin seorang manusia seperti aku—yang tangannya kotor, pikirannya retak, dan hatinya dipenuhi makhluk yang ia ciptakan sendiri—masih boleh berharap pada pintu yang tidak pernah kubuka dengan benar.
Jika tidak, biarkan aku tenggelam.
Aku sudah berjalan terlalu jauh untuk kembali,
Komentar
Posting Komentar