Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?

Ketika kabar itu datang—bahwa lusa mungkin menjadi hari kematianku—aku tidak terkejut. Sesuatu dalam diriku sudah lama hidup dengan kemungkinan bahwa hidup ini hanya sementara, seperti kursi yang ditinggal hangat tubuh atau bayangan yang hanya ada selama cahaya mau menemaninya. Sore hari itu, aku duduk diam menatap langit yang berubah warna perlahan. Merahnya menyerupai luka tua yang tak lagi marah, hanya mengingatkan diri bahwa ia pernah sakit. Dalam senyap yang merayap, aku bertanya kepada diriku sendiri: Apa sebenarnya yang ingin kutinggalkan pada dunia yang bahkan tidak pernah kumiliki sepenuhnya?


Aku kemudian berjalan keluar rumah. Angin menampar wajahku dengan cara yang aneh—liar, namun terasa akrab, seperti alarm dari sesuatu yang sudah lama kutunda untuk kusadari. Aspal retak di bawah kakiku tampak seolah mengikuti keretakan yang sejak lama berputar dalam kepalaku. Saat langkahku bergema, aku bertanya dalam hati: “Jika lusa aku mati, untuk apa selama ini aku menjaga luka-luka lama dengan begitu cermat?” Tidak ada jawaban yang datang, kecuali gema langkahku yang terdengar seakan sedang menimbang-nimbang keberadaanku.


Malam turun pelan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu renunganku, tetapi juga tidak berniat meninggalkanku sendirian. Langit tampak kosong, namun aku sadar bahwa kekosongan itu justru penuh—penuh hal yang tak kusentuh, tak kumengerti, dan mungkin tak akan sempat kucapai. Di bawah langit itu aku memahami satu hal: jika lusa aku tiada, maka malam ini harus menjadi waktu untuk menerima bahwa hidupku banyak dihabiskan untuk berlari. Berlari mengejar jawaban tanpa pernah benar-benar mengerti mengapa aku bertanya.


Di dalam dada, aku merasakan detak yang berubah-ubah: kadang liar seperti hewan yang menunggu mangsa, kadang lembut seperti bisikan yang ingin menuntunku berdamai. Ketenangan dan kegelisahan duduk berdampingan dalam tubuhku, seakan dua kemungkinan yang sama-sama ingin menguasai ruang yang tersisa. Lalu muncul suara kecil dalam batinku, bertanya sederhana: Apa sebenarnya yang kau cari? Untuk pertama kalinya aku merasa pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat. Mungkin manusia tidak pernah dimaksudkan untuk menemukan semua jawabannya. Mungkin kita hanya perlu berjalan sambil membawa pertanyaan itu, dan perlahan-lahan pertanyaan itulah yang menjadi rumah.


Jika lusa benar kematianku, aku ingin hari ini menjadi pengingat bahwa hidup bukan tentang jejak besar atau nama panjang. Hidup adalah tentang napas yang kita sadari, langkah kecil yang kita pilih, dan keberanian untuk tetap berjalan meski tidak tahu apa yang menunggu di tikungan berikutnya. Aku ingin melihat diriku, dengan segala kerusakan dan upayanya, sebagai seseorang yang berusaha. Seseorang yang pernah jatuh, pernah terbakar oleh ambisi sendiri, pernah marah kepada dunia, namun tetap mencoba memahami ke mana segala sunyi ini mengarah.


Tetapi aku tidak akan mengingkari bagian liar dalam diriku. Bagian itu masih ingin menantang takdir, masih ingin berkata bahwa aku belum selesai. Namun semakin lama, bagian lain dalam diriku—yang lebih dewasa, lebih tenang—mendekat dan berbisik bahwa hidup tidak selalu harus diselesaikan dengan kemenangan. Terkadang, hidup selesai dalam pemahaman. Atau dalam keheningan yang akhirnya bisa kita terima tanpa rasa kalah.


Saat kembali ke kamar, aku menyalakan lampu kecil yang cahayanya lembut dan hangat, seperti pengakuan. Dalam cahaya itu aku melihat diriku sendiri: seseorang yang pernah menyimpan amarah, menanggung masa lalu yang berat, ingin hilang, namun tetap memilih bangun setiap pagi. Dan itu saja, mungkin, sudah cukup membuktikan bahwa aku belum menyerah menjadi manusia.


Jika benar lusa aku mati, aku hanya ingin dunia mengingat satu hal sederhana: bahwa aku pernah mencoba memahami hidup, meski hidup terlalu luas untuk kupeluk seluruhnya. Aku pernah belajar mencintai, meski tak selalu tahu cara mencintai diriku. Aku pernah bertanya, dan meski jawabannya tak datang, pertanyaannya sendiri sudah cukup membuatku hidup.


Dan jika akhirnya lusa aku pergi, aku ingin pergi bukan dengan amarah, tapi dengan keheningan yang tumbuh dari penerimaan. Bila kata-kata ini menjadi yang terakhir tersisa dariku, biarlah ia tinggal di sini, di ruang yang sunyi tapi jujur. Karena mungkin, di antara segala hal yang tidak sanggup kupahami, aku hanya ingin satu hal:

untuk tidak lenyap begitu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Dibunuh Polisi (Catatan dari Anak Madrasah Yang Tak Sempat Dewasa)

Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?