Elegi untuk Mereka yang Dibunuh dan Difitnah
Perkenalkan, saya Rwan Disastra.
Nama ini mungkin tidak penting bagi banyak orang, tapi keresahan yang saya bawa nyata dan hidup. Saya menulis bukan karena ingin dikenal, melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak bisa lagi saya simpan sendiri. Saya hidup di tengah masyarakat yang setiap hari disuguhi kabar kekerasan lalu diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Saya kerap disamakan dengan sosok Juang Astrajingga—bukan karena saya ingin menjadi tokoh, tetapi karena kegelisahan kami lahir dari tempat yang sama. Saya sulit diam, mudah marah, dan tidak pernah benar-benar tenang melihat ketidakadilan diperlakukan sebagai rutinitas. Saya tidak pandai bersikap netral ketika nyawa manusia diperlakukan seperti kesalahan prosedur.
Nama ini mungkin tidak penting bagi banyak orang, tapi keresahan yang saya bawa nyata dan hidup. Saya menulis bukan karena ingin dikenal, melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak bisa lagi saya simpan sendiri. Saya hidup di tengah masyarakat yang setiap hari disuguhi kabar kekerasan lalu diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Saya kerap disamakan dengan sosok Juang Astrajingga—bukan karena saya ingin menjadi tokoh, tetapi karena kegelisahan kami lahir dari tempat yang sama. Saya sulit diam, mudah marah, dan tidak pernah benar-benar tenang melihat ketidakadilan diperlakukan sebagai rutinitas. Saya tidak pandai bersikap netral ketika nyawa manusia diperlakukan seperti kesalahan prosedur.
Tulisan ini bukan upaya menjadi pahlawan. Ini luapan keresahan yang terlalu lama ditahan. Terlalu sering saya membaca klarifikasi yang dingin, terlalu sering melihat korban difitnah, dan terlalu sering menyaksikan aparat dilindungi oleh sistem yang seharusnya mengawasi mereka. Maka di sini, izinkan saya berbicara sebagai warga yang sedang marah dan menolak diam.
Saya menulis ini bukan sebagai pengamat netral.
Saya menulis sebagai orang yang muak melihat pola.
Muak karena terlalu banyak nyawa hilang, terlalu banyak alasan dibuat-buat, dan terlalu sering polisi lolos tanpa benar-benar dimintai pertanggungjawaban.
Nama-nama ini bukan sekadar berita bagi saya. Mereka luka.
Zahra Dilla adalah mahasiswa. Seorang perempuan muda yang seharusnya punya masa depan bukan batu nisan. Ia dicekik oleh polisi, lalu kematiannya diperkecil oleh alasan yang menghina akal sehat: saya tidak tahu mencekik bisa membunuh. Kalimat itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya tindakan tetapi cara berpikir yang membenarkan kekerasan. Jika aparat tidak memahami batas paling dasar antara hidup dan mati, mengapa mereka diberi kuasa atas tubuh warga? Saya juga marah saat mengingat Afif Maulana. Disiksa sampai mati. Bukan ditangkap, bukan diadili—disiksa. Tubuhnya menjadi bukti, tetapi negara lebih sibuk mengatur bahasa daripada menghadirkan keadilan. Kekerasan dijelaskan sebagai prosedur, luka diubah menjadi administrasi. Di titik itu kemanusiaan benar-benar kalah oleh seragam.
Lalu ada Gamma. Ditembak, kemudian difitnah sebagai pelaku tawuran. Saya muak dengan pola ini: peluru lebih dulu, narasi menyusul. Cerita disusun rapi agar kemarahan publik cepat reda. Korban dipaksa mati dua kali—secara fisik, lalu secara moral. Kemarahan saya semakin memuncak ketika mengingat Affan Kurniawan. Ia turun aksi, menggunakan haknya sebagai warga negara lalu kehilangan nyawa. Setelah itu, yang dibahas bukan kemanusiaannya, melainkan ketertiban, kemacetan, dan citra. Seolah suara rakyat selalu dianggap gangguan, dan kematian adalah risiko yang bisa diterima.
Dan yang paling menghancurkan nalar saya adalah Arianto Tawakal—seorang anak berusia 14 tahun. Ia dituduh sebagai pelaku balap liar tanpa bukti yang jelas. Dalam peristiwa itu, kepalanya dihantam dengan helm keras hingga ia kehilangan nyawa. Kejadian itu terjadi di Maluku, meninggalkan jejak kekerasan yang tidak bisa dihapus oleh alasan apa pun. Seorang anak mati, lalu ditutup dengan tuduhan. Bagi saya, ini bukan sekadar kelalaian—ini kegagalan moral yang telanjang.
Saya menolak melihat semua ini sebagai kejadian terpisah.
Karena saya bukan bodoh.
Karena polanya terlalu jelas.
Karena polanya terlalu jelas.
Setiap kali polisi membunuh warga, selalu ada alasan.
Setiap kali ada alasan, selalu ada pembelaan institusi.
Dan setiap kali, keadilan diminta menunggu—sampai publik lupa.
Saya marah karena polisi seharusnya melindungi masyarakat, bukan menjadi ancaman. Saya marah karena kritik selalu dibalas dengan defensif, bukan evaluasi. Saya marah karena yang dihukum sering kali rakyat kecil, sementara yang berseragam berlindung di balik sistem internal yang tertutup.
Ini bukan soal benci individu.
Ini soal menolak penyalahgunaan kuasa.
Saya, Rwan Disastra, tidak mau menulis dengan bahasa aman. Saya tidak mau berpura-pura objektif ketika nyawa terus diambil. Saya akan tetap bersuara dan melawan agar kematian mereka tidak menjadi sia-sia. Karena diam berarti menyetujui. Karena lupa berarti mengizinkan pengulangan. Di jalanan, di tulisan, dan di ruang diskusi, saya belajar satu hal: keadilan tidak pernah diberikan secara sukarela oleh kekuasaan. Ia selalu dituntut. Dipaksa hadir oleh suara-suara yang dianggap mengganggu. Maka ketika polisi terus menyalahgunakan wewenang dan negara memilih membela institusi ketimbang korban, kemarahan warga bukan ancaman—ia peringatan. 1312 bagi saya bukan sekadar simbol. Ia adalah ekspresi muak terhadap impunitas. Penolakan terhadap anggapan bahwa seragam membuat seseorang kebal kritik. Seruan agar polisi berhenti memosisikan masyarakat sebagai musuh, dan mulai mempertanggungjawabkan setiap nyawa yang hilang di tangan mereka.
Hari ini mereka.
Besok bisa siapa saja.
Dan saya menolak menunggu giliran.
Dan saya menolak menunggu giliran.
Selama kekerasan polisi terhadap masyarakat terus dinormalisasi, saya akan terus marah. Selama kematian masih dibungkus alasan, saya akan terus menulis. Karena suara adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka sita.
Dan saya memilih untuk tidak diam
Terserah kalian mau membaca atau tidak.
Saya, Rwan, tidak menulis untuk menyenangkan siapa pun. Saya menulis karena saya memilih berdiri. Karena saya menolak tunduk. Karena saya tidak mau hidup dalam masyarakat yang terbiasa menelan kebohongan dan menyebutnya ketertiban. Saya tahu risiko bersuara. Saya tahu akan ada yang mencibir, mengecilkan, atau menyederhanakan kemarahan ini sebagai emosi sesaat. Tapi saya juga tahu satu hal: diam selalu berpihak pada yang berkuasa. Dan saya menolak berada di sisi itu. Saya tidak sedang meminta simpati. Saya menyatakan posisi. Ketika polisi menyakiti masyarakat, saya tidak akan mencari jalan tengah. Ketika nyawa warga direnggut lalu dibenarkan, saya tidak akan berpura-pura objektif. Saya akan terus berdiri bersama korban, titik. Tidak ada kompromi untuk kekerasan yang disahkan oleh seragam. Bagi saya, bersuara bukan pilihan moral yang nyaman, melainkan kewajiban. Saya tidak menunggu momen aman, tidak menunggu izin, dan tidak menunggu keadaan membaik. Selama ketidakadilan masih dianggap prosedur, perlawanan adalah sikap paling waras.
Ini bukan ancaman.
Ini pernyataan.
Saya akan tetap berdiri, tetap mengingat, dan tetap melawan—
bukan untuk terlihat berani,
tetapi karena saya memilih menjadi manusia yang tidak menunduk.
Komentar
Posting Komentar