JURNAL JUANG - Fragmen Soundswave yang Meminta Kesimpulan
Pagi itu datang tanpa suara. Seperti biasa, matahari menetes perlahan melalui sela-sela tirai jendela, memaksa kesadaran kembali ke tubuh yang masih enggan bangun. Tatkala mataku terbuka, ada perasaan yang menggantung samar di dada—bukan kesedihan yang jelas bentuknya, tetapi lebih seperti kabut tipis yang menyelimuti pikiran. Aku, bangkit dari tempat tidur dan menjalankan rutinitas sebagaimana mestinya, kendati suasana hati terasa berjalan setengah langkah di belakang diriku sendiri. Air membasuh wajah, kopi hangat menemaniku menatap waktu yang bergerak perlahan. Hari itu tidak terasa istimewa, setidaknya hingga siang mulai mendekat dan ingatanku menuntunku pada satu hal yang membuat jantung berdetak sedikit lebih hidup: Soundswave. Sebuah acara musik yang digelar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Musik selalu menjadi ruang di mana aku bisa bersembunyi sekaligus menemukan diri sendiri, tempat di mana kebisingan justru terasa seperti ketenangan yang paling jujur.
Tatkala jarum jam menunjuk siang, aku mulai merapikan diri. Memilih pakaian dengan perasaan yang sulit dijelaskan—tidak terlalu rapi, tidak pula sembarangan, seperti seseorang yang ingin terlihat biasa saja namun tetap membawa identitasnya. Sebelum berangkat, aku memastikan dua hal tidak tertinggal: sebotol Intisari dan sebungkus kretek dingin 76 apel. Bagiku, keduanya bukan sekadar benda, melainkan semacam ritual kecil yang menandai perjalanan menuju malam yang kemungkinan akan penuh cerita.
Perjalanan menuju Ciputat terasa biasa saja, namun pikiranku sudah melayang pada dentuman musik, kerumunan manusia, dan lampu panggung yang biasanya mampu membuat waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Sesampainya di lokasi, suara sudah lebih dulu menyambutku. Dentuman bass dan gema gitar dari panggung utama pecah di udara, seperti ombak yang memanggil siapa pun untuk mendekat. Binafsih sedang tampil, dan energi mereka merambat keluar dari area panggung hingga ke sudut-sudut tempat orang berkumpul.
Aku tidak langsung masuk. Aku memilih berdiri di luar area kerumunan. Menyalakan kretek, mengisapnya perlahan, lalu meneguk Intisari dengan ritme yang tenang. Kepulan asap naik ke udara malam, bercampur dengan gema musik yang datang dari kejauhan. Ada ketenangan aneh yang kurasakan—sebuah momen refleksi di tengah kebisingan yang justru terasa sakral.
Tatkala aku sedang larut dalam pikiranku sendiri, sebuah suara memanggil dari belakang.
“Juang?”
Aku menoleh, dan di sana berdiri Gama.
Gama adalah potongan masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang dari hidupku. Aku mengenalnya jauh sebelum aku menginjak bangku kuliah. Ia bukan teman sekolah, bukan pula seseorang yang kutemui dalam lingkaran pergaulan yang biasa. Aku bertemu Gama di sebuah komunitas menulis kecil—tempat di mana orang-orang datang membawa keresahan masing-masing dan mencoba menerjemahkannya menjadi kata-kata.
Di komunitas itulah aku pertama kali benar-benar belajar menulis dengan jujur. Gama bukan hanya sekadar teman diskusi, tetapi juga seseorang yang secara tidak langsung membentuk caraku melihat tulisan. Ia sering mengkritik tulisanku tanpa banyak basa-basi, namun justru dari sanalah aku belajar memahami bahwa kata-kata bukan sekadar hiasan, melainkan cara seseorang menyelamatkan pikirannya sendiri.
“Gama? Gila… gue kira lo udah hilang ditelan kesibukan,” kataku sambil tersenyum lebar.
Gama tertawa pelan, matanya menyipit seperti masih menyimpan banyak cerita.
“Hilang sih enggak, cuma jarang muncul. Gue juga kaget liat lo di sini.”
“Gue juga kaget ketemu lo. Sendiri?”
“Sendiri. Kadang lebih enak gitu. Lo sendiri juga kan?”
“Iya… tapi ya begitulah. Kadang kita dateng sendirian bukan karena nggak punya temen, tapi karena lagi pengen berdamai sama pikiran sendiri.”
Gama mengangguk pelan, menatap kepulan asap dari kretekku yang melayang tak tentu arah.
“Masih sering nulis, Ju?” tanyanya.
“Masih. Walau sekarang lebih banyak nulis yang nggak pernah gue tunjukin ke siapa-siapa.”
“Lo dari dulu emang begitu. Nulis buat ngeluarin isi kepala, bukan buat dipuji orang.”
Aku tertawa kecil.
“Lo masih aja bisa baca kebiasaan gue.”
“Karena gue tau proses lo dari awal,” jawabnya tenang. “Tulisan lo sekarang gimana?”
“Gue ngerasa makin jujur… tapi kadang juga makin berantakan.”
Gama tersenyum tipis.
“Kalau tulisan lo mulai berantakan, biasanya itu tanda lo lagi tumbuh.”
Kalimat itu membuatku terdiam sejenak. Seperti biasa, Gama selalu punya cara menyampaikan sesuatu dengan sederhana, namun terasa menetap lama di kepala.
Tak lama, sorakan dari dalam area panggung semakin keras. Black Horses akan tampil—band yang sejak awal menjadi alasan utamaku datang malam itu.
“Gue masuk dulu, Gam. Ini yang gue tunggu,” kataku.
Gama mengangguk.
“Gas. Nanti kita ketemu lagi di dalem.”
Dengan langkah tergesa, aku masuk ke dalam kerumunan. Lampu panggung menari liar di udara, dan tatkala Black Horses mulai memainkan lagu pertama mereka, energi penonton berubah menjadi satu gelombang besar yang berdenyut bersama irama. Aku berdiri di antara ratusan manusia, namun merasa seperti sedang berdialog langsung dengan musik itu sendiri. Setiap dentuman drum seperti mengetuk sesuatu di dalam dada, dan setiap petikan gitar seperti menarik ingatan yang lama tersembunyi.
Setelah penampilan mereka selesai, aku melipir ke sisi kiri panggung. Duduk di tepi pembatas area, mencoba mengatur napas yang masih terbawa euforia. Di sana aku bertemu beberapa teman lain, termasuk roadman Black Horses dan beberapa personelnya. Obrolan kami ringan namun hangat—tentang musik, perjalanan tur mereka, hingga cerita-cerita kecil di balik panggung yang tidak pernah dilihat penonton.
Suara band-band lain terus bergantian mengisi panggung, namun kendati begitu, percakapan kami terasa jauh lebih hidup. Tawa, candaan, dan cerita menjadi semacam konser kecil yang hanya bisa didengar oleh lingkaran pertemanan kami.
Waktu berjalan tanpa terasa. Tatkala Black Horses memutuskan pulang, suasana di sekitarku mulai berubah. Perutku tiba-tiba berbunyi, mengingatkanku bahwa sejak siang aku hampir tidak makan. Langit malam perlahan menunjukkan tanda-tanda perubahan—seperti fajar yang mulai ditelan bumi sebelum sempat sepenuhnya lahir.
Aku membeli makanan sederhana, lalu berdiri menikmati satu sampai dua lagu dari Hermione yang sedang tampil. Musik mereka mengalun lembut di antara sisa energi malam. Orang-orang masih melompat, masih bernyanyi, masih merayakan kebebasan yang diberikan oleh dentuman musik.
Namun, entah sejak kapan, ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Aku berdiri di tengah keramaian, kendati perasaan justru menjauh dari suasana itu. Pikiran-pikiran yang tak jelas bentuknya datang beriringan, seperti tamu yang masuk tanpa mengetuk pintu. Aku melihat teman-temanku tertawa, menikmati malam dengan penuh semangat, sementara aku justru sibuk menenangkan kegaduhan yang muncul di dalam kepala sendiri.
Tatkala kesadaran itu semakin kuat, aku memutuskan untuk pulang. Meski masih ada Eleventwelfth dan Perunggu yang akan tampil—dua nama yang seharusnya mampu membuatku bertahan hingga pagi—aku memilih melangkah keluar. Bukan karena aku tidak ingin menonton mereka, tetapi karena ada kalanya hati meminta pulang sebelum tubuh benar-benar lelah.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Lampu jalan berbaris seperti saksi bisu, dan udara dini hari membawa aroma kota yang perlahan mulai beristirahat. Pikiranku dipenuhi potongan-potongan perasaan yang sulit dirangkai menjadi kalimat utuh.
Tatkala aku sampai di rumah, keheningan menyambutku tanpa pertanyaan. Aku duduk, mengambil kertas dan pena, lalu mulai menulis. Menulis tentang musik, tentang pertemuan yang tidak direncanakan, tentang kebahagiaan kecil yang sempat hadir, dan tentang kebingungan yang ikut pulang bersamaku. Aku menulis bukan untuk mencari jawaban, melainkan agar semua yang kurasakan hari itu tidak hilang begitu saja. Karena terkadang, kenangan tidak membutuhkan kesimpulan—ia hanya perlu diceritakan, agar tetap hidup di antara waktu yang terus berjalan.
Aku menutup buku catatan itu perlahan, seolah takut jika gerakan terlalu cepat akan membuat semua kenangan yang baru saja kutulis ikut tercerai. Tatkala tanganku terlepas dari halaman terakhir, aku menyadari bahwa manusia barangkali memang tidak pernah benar-benar menulis untuk mengabadikan peristiwa, melainkan untuk menegaskan bahwa ia pernah ada di dalamnya. Malam itu mengajarkanku sesuatu yang tidak diucapkan oleh siapa pun. Bahwa kebahagiaan dan kegelisahan sering kali berjalan berdampingan seperti dua bayangan yang tak bisa dipisahkan. Kita datang ke tempat-tempat yang kita cintai, bertemu orang-orang yang pernah mengisi bagian hidup kita, mendengar musik yang seolah memahami isi kepala kita—kendati semua itu, tetap ada ruang sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh diri sendiri.
Aku mulai memahami bahwa hidup bukanlah rangkaian peristiwa yang harus selalu dimaknai secara utuh. Ada pengalaman yang hanya datang untuk dilewati, seperti lagu yang tidak pernah kita hafal liriknya namun tetap terasa akrab setiap kali diputar. Waktu, dengan caranya yang dingin namun adil, mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar menetap di satu rasa. Kita hanya singgah, berpindah dari satu emosi ke emosi lainnya, seperti penonton yang berdiri dari satu panggung ke panggung berikutnya.
Di luar jendela, pagi semakin terang. Cahaya yang perlahan memenuhi ruangan membuatku sadar bahwa setiap malam, seberapa panjang pun ia terasa, pada akhirnya akan menyerah pada datangnya hari. Barangkali begitulah hidup bekerja—setiap kegelisahan memiliki batas waktunya sendiri, meskipun kita tidak pernah tahu kapan ia benar-benar pergi.
Aku berpikir tentang perjalanan malam itu. Tentang pertemuan yang tidak direncanakan, tentang musik yang sempat membuatku merasa utuh, dan tentang langkah pulang yang terasa lebih jujur daripada bertahan di tempat yang sebenarnya masih ingin kunikmati. Dari semua itu, aku menyadari bahwa manusia sering kali tidak mencari kebahagiaan sebesar yang ia bayangkan. Ia hanya mencari ruang di mana dirinya diizinkan menjadi rapuh tanpa harus menjelaskan alasan.
Tatkala aku berdiri dari kursi, ada kesadaran kecil yang tumbuh di dalam diri—bahwa mungkin tujuan hidup bukanlah menemukan jawaban yang pasti, melainkan belajar berdamai dengan pertanyaan yang terus berubah. Kita hidup di antara ketidakpastian, dan justru di sanalah makna sering kali tersembunyi.
Aku memandang keluar jendela sekali lagi. Kota mulai bergerak, orang-orang akan kembali menjalani rutinitasnya, dan dunia akan terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun selesai memahami dirinya sendiri. Namun aku tahu, di antara langkah-langkah yang akan kulewati setelah hari ini, akan selalu ada ruang untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan menulis.
Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang hidup di dalam waktu.
Ia adalah makhluk yang berusaha mengerti mengapa waktu terus berjalan,
kendati ia tahu…
tidak semua perjalanan diciptakan untuk menemukan tujuan.
Sebagian hanya hadir agar kita belajar bagaimana caranya tetap melangkah.
Komentar
Posting Komentar