JURNAL JUANG - Kota, kopi pinggir jalan dan yang hilang di tengah jalan

Hari itu dimulai seperti hari yang tidak menuntut apa pun dariku. Jakarta tetap berdiri seperti biasanya—ramai, panas, dan sedikit tidak peduli terhadap cerita kecil manusia di dalamnya. Aku berangkat hanya dengan satu tujuan sederhana: bertemu Jeira. Kami bertemu ketika sore masih menggantung di antara terang dan gelap. Jeira datang dengan langkah yang terlihat tenang, seperti seseorang yang tidak pernah merasa perlu mengejar waktu. Senyumnya sederhana, tapi cukup membuat suasana terasa lebih ringan.

Kami mulai berjalan tanpa rencana yang benar-benar jelas. Percakapan kami mengalir pelan, membahas hal-hal kecil—lagu yang sedang sering didengar, cerita lama yang kadang masih tertinggal di kepala, dan bagaimana hidup sering terasa berjalan lebih cepat dari yang kita inginkan. Belum lama berjalan, aku melihat gerobak kopi yang sedang ramai dikerumuni orang. Kopi gerobakan yang sedang viral—banyak orang bilang rasanya mirip kopi Jago, tapi jelas bukan. Aku mengajaknya berhenti sebentar.

Kami memesan dua gelas kopi dingin dan berdiri di pinggir jalan sambil meminumnya. Embun air menempel di gelas plastik, kendaraan lewat tanpa peduli, dan untuk sesaat, dunia terasa cukup sederhana. Jeira sempat bilang dia suka kopi yang rasanya jujur, tidak berusaha terlihat lebih rumit dari seharusnya. Aku tertawa kecil, karena entah kenapa kalimat itu terasa seperti menggambarkan dirinya juga.

Setelah kopi habis, kami melanjutkan perjalanan menuju Blok M.
Blok M sore itu tetap hidup seperti biasanya. Lampu toko mulai menyala, kendaraan memenuhi jalan, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Kami masuk ke Blok M Square tanpa arah pasti, hanya mengikuti langkah kaki kami sendiri.

Kami berhenti di toko buku kecil. Aroma kertas langsung menyambut ketika kami masuk. Aku melihat rak buku cukup lama sampai akhirnya memilih “Warisan Gus Dur”. Aku selalu tertarik pada bagaimana seseorang bisa meninggalkan pengaruh melalui nilai dan pemikiran yang ia wariskan. Aku juga mengambil buku “Stop It: Pelecehan Seksual”, buku yang terasa seperti pintu untuk memahami sisi dunia yang sering dianggap sepele, tapi sebenarnya menyimpan banyak cerita yang jarang didengar. Jeira berdiri di rak lain. Dia membaca beberapa buku dengan serius sebelum akhirnya memilih “Ruh Islam dalam Budaya Bangsa”. Dia bilang pelan kalau dia percaya nilai kepercayaan sering hidup melalui kebiasaan manusia sehari-hari. Aku mengangguk, meskipun sebenarnya aku ingin mendengar lebih banyak tentang apa yang ia pikirkan.

Setelah membeli buku, kami berjalan ke pujasera. Kami mencari tempat duduk, memperhatikan meja-meja yang sebagian sudah penuh oleh orang-orang yang datang dengan cerita mereka masing-masing.

Ketika kami menemukan satu meja kosong dan hendak duduk, Jeira melihat sebuah benda kecil yang sudah ada di atas meja itu. Sebuah pods merek Termal warna pink. Benda kecil itu terlihat sederhana, tapi entah kenapa langsung menarik perhatiannya. Dia mengambilnya, memperhatikan bentuknya, memutar-mutar benda itu dengan ekspresi bahagia seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang tidak sengaja, tapi terasa menarik. Dia bilang dia suka benda kecil itu karena itu yang dia inginkan sejak lama. Aku hanya tersenyum melihat cara dia memperhatikan pods itu dengan detail, seolah benda sekecil itu pun bisa punya cerita.

Kami memesan makanan hot plate, lalu duduk sejajar sambil menunggu makanan datang. Percakapan kami berjalan pelan, membahas buku yang baru kami beli, membicarakan tokoh, nilai, musik, konser dan bagaimana manusia sering mencari makna dari hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka.

Ketika makanan datang, suara hot plate yang masih mendesis memenuhi meja kami. Kami makan pelan, menikmati makanan sambil tetap berbicara tentang hal-hal kecil yang terasa nyaman.

Percakapan kami perlahan berubah menjadi lebih jujur. Jeira bercerita tentang ketakutan yang sering ia simpan. Tentang bagaimana dunia kadang terasa terlalu keras untuk seseorang yang hanya ingin hidup dengan tenang. Aku mendengarkan, atau setidaknya aku merasa aku benar-benar mendengarkan. Aku juga bercerita tentang diriku, tentang mimpi yang sering terasa terlalu jauh untuk aku capai. Kami tertawa, bukan karena semuanya lucu, tapi karena ada rasa lega ketika akhirnya bisa berbicara tanpa merasa dihakimi.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Santa.

Pasar Santa malam itu hidup dengan caranya sendiri. Musik dari toko kecil bercampur dengan aroma makanan dan suara percakapan orang-orang yang mencoba melupakan hari mereka. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong pasar, melihat barang-barang yang sebenarnya tidak kami cari. Setelah cukup lama berkeliling, kami membeli Kopi Tuku. Kami duduk dengan dua gelas kopi di tangan, dan untuk waktu yang cukup lama, kami hanya diam.

Diam yang tidak terasa canggung. Diam yang justru terasa seperti percakapan tanpa kata-kata. Kami hanya melihat orang-orang berlalu, mendengar musik dari kejauhan, dan membiarkan malam berjalan tanpa perlu kami ganggu dengan terlalu banyak kata.

Ketika akhirnya kami memutuskan pulang, kota sudah berubah menjadi lebih sepi. Lampu jalan memantulkan bayangan kami di trotoar, kadang terlihat menyatu, kadang terpisah karena langkah yang tidak pernah benar-benar sama.

----------

Dan entah kapan tepatnya, Jeira menghilang.

Tidak ada perpisahan. Tidak ada pesan terakhir. Tidak ada penjelasan yang bisa aku pegang. Hanya ruang kosong di sampingku, dan langkah kaki yang tiba-tiba terasa sendirian.

Sejak malam itu, aku sering memutar ulang semuanya di kepalaku. Dari kopi gerobakan viral yang kami minum di pinggir jalan, toko buku kecil di Blok M Square, meja pujasera tempat kami menemukan pods Termal, sampai diam kami bersama kopi Tuku di Pasar Santa.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri—apakah aku pernah mengatakan sesuatu yang salah? Apakah ada kalimat yang tanpa sadar melukai? Atau mungkin aku hanya seseorang yang kebetulan lewat di bagian cerita hidupnya yang memang tidak dirancang untuk bertahan lama.

Sekarang buku-buku itu masih aku simpan. Kenangan tentang malam itu juga masih tinggal, seperti halaman yang tidak pernah selesai ditulis. Dan aku mulai mengerti, beberapa orang hadir bukan untuk tinggal, melainkan untuk meninggalkan jejak kecil yang diam-diam mengubah cara kita memandang hidup.

Di tengah kota yang tidak pernah berhenti bergerak, aku masih berjalan, membawa kenangan tentang seseorang yang pernah menemaniku meminum kopi pinggir jalan, menyusuri Blok M, duduk di pujasera, menemukan pods kecil bermerek Termal di atas meja yang kami pilih, berbagi diam bersama kopi Tuku di Pasar Santa, dan menghilang seperti malam yang berakhir tanpa sempat aku minta untuk tinggal sedikit lebih lama.

----------

Untuk Jeira
jika suatu kebetulan semesta membuatmu mengingat hari itu, aku hanya ingin kamu tahu bahwa kehadiranmu pernah membuat kota terasa lebih tenang dari biasanya. Terima kasih sudah berjalan di sampingku, mendengarkan ceritaku, dan membiarkan aku mendengar ceritamu, walaupun mungkin hanya sebentar. Aku tidak pernah tahu alasan kamu menghilang, dan mungkin aku tidak akan pernah tahu. Tapi aku berharap, di mana pun kamu melanjutkan perjalananmu, kamu menemukan tempat yang membuatmu merasa cukup aman untuk menjadi dirimu sendiri.

Dan kalau suatu hari dunia terasa terlalu bising, terlalu berat, dan pikiran terasa seperti lorong panjang tanpa lampu, aku cuma ingin kamu ingat satu hal: kamu berharga lebih dari luka yang kamu pikir bisa menenangkanmu. Rasa sakit bukan bahasa yang harus kamu gunakan untuk berbicara dengan dirimu sendiri.

Kalau lelah datang, mungkin kamu bisa belajar mengusirnya dengan cara yang lebih ramah—dengan menulis, berjalan tanpa tujuan, membaca buku yang membuatmu merasa dipeluk kata-kata, atau sekadar duduk dengan secangkir kopi yang perlahan dingin sambil membiarkan waktu menenangkan kepala.

Tidak semua badai harus dilawan sendirian. Ada banyak cara bertahan tanpa harus menyakiti diri sendiri. Dan kalau kamu lupa caranya bertahan, semoga kamu ingat akan ada seseorang yang melihatmu sebagai cerita yang layak terus berlanjut, bukan halaman yang harus dihakimi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Dibunuh Polisi (Catatan dari Anak Madrasah Yang Tak Sempat Dewasa)

Titik Paling Senyap Antara Langit dan Kobaran. Bisakah Surga Dikejar Dengan Cara Neraka?

Bagaimana Lusa Nanti adalah Hari Kematianku?